202 Tahun Nafas Bandung

Bandung baru saja menginjakkan umur 202 tahun pada tanggal 25 September kemarin. Dalam rangka ulang tahun Bandung, Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (KM ITB) mengadakan sebuah diskusi publik dengan pembicara Tisna Sanjaya, Denny Zulkaidi, dan Ridwan Kamil. Diskusi publik ini mengambil tema refleksi 202 tahun kota Bandung dan komunitas sebagai generator pembangunan. Menarik tentunya, karena Bandung sendiri sudah menjadi ‘rumah’ bagi saya hampir selama 2 tahun lebih. Apa salahnya untuk turut peduli dan menjaga?

“Kota ini dirampok.” – Tisna Sanjaya

Begitulah kalimat yang diucapkan oleh Pak Tisna Sanjaya sebagai pembuka diskusi yang terngiang-ngiang dikepala saya. Beliau mengutarakan berbagai persoalan yang terjadi di Bandung dari kacamata seorang warga keturunan Bandung dan seniman. Beliau kerap mengutarakan pentingnya rasa ‘cinta’ untuk menjaga dan peduli dengan Bandung, sedangkan Pak Denny Zulkaidi menerangkan pentingnya peranan politik dalam pembangunan Bandung. Selama kurang lebih 45 menit, baik beliau maupun Pak Denny Zulkaidi telah menjabarkan persoalan yang terjadi di Bandung, baik yang kita sudah sadari maupun tidak sadari. Salah satu contohnya adalah para pedagang kaki lima (PKL) dan parkiran motor yang mengambil tempat di ruas jalan Dayang Sumbi dan kerap mengakibatkan macet. Tapi apakah mahasiswa-mahasiswa ITB rela jika PKL ini digusur? Pasti akan banyak yang protes karena tidak tahu lagi mau jajan dimana. Begitu pula dengan keadaan lalu lintas Bandung yang semakin macet terutama di daerah-daerah dekat mall saat weekend.

Lalu muncul satu pertanyaan penting : apa solusinya?

This is where it gets interesting. Begitu giliran berbicara sampai pada Ridwan Kamil, saya yakin banyak yang setuju bahwa solusinya adalah kita sebagai generasi muda.

Bandung sudah lama dikenal sebagai kota kreatif karena di kota inilah lahir berbagai komunitas kreatif, seniman-seniman berbakat, penulis, insinyur muda, dan juga musisi-musisi jenius. Salah satu hal yang membuat saya tidak berhenti berdecak kagum selama tinggal di Bandung adalah sebuah organisasi bernama Bandung Creative City Forum (BCCF). Baru-baru ini BCCF telah dengan sukses menyelenggarakan salah satu dari rangkaian acara mereka yaitu Helar Fest 2012 #1 : Lightchestra di Babakan Siliwangi dan Helar Fest #2 : Festival Kampung Taman Sari.

“Sebagai organisasi resmi, BCCF telah menjelma menjadi sebuah organisasi mandiri yang memiliki tujuan untuk dapat memberikan manfaat bagi masyarakat pada umumnya dan komunitas kreatif di kota Bandung khususnya. Dalam setiap aktivitasnya, BCCF menggunakan pendekatan pendidikan berbasis kreativitas, perencanaan dan perbaikan infrastruktur kota sebagai sarana pendukung pengembangan ekonomi kreatif dan menciptakan wirausaha-wirausaha kreatif baik perorangan atau komunitas. Pada akhirnya forum ini turut serta menginisiasi pengembangan strategi branding dan membangun network yang seluas-luasnya sebagai upaya kolektif demi mentahbiskan kota Bandung sebagai kota kreatif yang siap berkolaborasi sekaligus berkompetisi secara global.”  – dikutip dari website BCCF

Dapat ditengok juga Keuken yang dilaksanakan setiap 6 bulan sekali dengan tujuan untuk mengenalkan kembali ruang publik kepada seluruh masyarakat Bandung. Dan cara yang mereka terapkan untuk menarik minat masyarakat adalah dengan memuaskan perut mereka. Who doesn’t love a good food anyway? 

Ketika saya pertama kali memasuki ruangan diskusi publik kali itu, mata saya langsung tertarik dengan tulisan : komunitas sebagai generator pembangunan. Saya percaya komunitas dengan tujuan yang baik memiliki dampak yang sangat berpengaruh. Komunitas menggerakkan masyarakat. Dan kita sebagai generasi muda punya kekuatan untuk itu.

“When political system fails, civil society movement could be the answer.” – Ridwan Kamil

Jadi bagaimana kalau kita sama-sama menggerakkan masyarakat, dan juga diri sendiri, untuk lebih peduli dengan Bandung? Mari sejenak tinggalkan embel-embel identitas seperti almamater, warna kulit, ras, maupun asal kota dan tengok Bandung dari kacamata seorang warganya. Untuk membawa Bandung sebagai tempat berlabuh dan juga rumah yang nyaman. Untuk 202 tahun Bandung yang masih akan terus bernafas.

Dirgahayu Bandung!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s